Friday, November 26, 2010

Kisah Para Pekerja Indonesia di Saudi Arabia

Ini pendapat pribadi ya... dari apa yang saya amati sendiri dan berdasarkan info dari orang-orang Indonesia yang saya temui dan sudah lama tinggal di saudia...

Di saudia orang Indonesia dikenal sebagai house worker (perempuan) dan house driver (laki-laki). Walaupun sebenarnya banyak di sektor formal, seperti engineering, bank, dll. Pernah nganterin teman ke grapari STC untuk unlock SIM card nya, si pegawainya (org saudi) bilang, baru kali ini dia ketemu orang Indonesia yg bisa berbahasa Inggris. Artinya ??

Begitu si pekerja rumah (pembantu rumah tangga atau supir rumah tangga) datang ke saudia maka dia akan di beri iqama (Kartu Identitas kayak KTP) sebagai pengganti passport. Sedangkan passport mereka di tahan oleh majikan. Di Iqama juga tercantum nama majikannya dan nomor kontaknya. Iqama ini berlaku hingga 2 tahun, jadi si pekerja baru bisa pulang paling lama 2 tahun.

Para TKW yang dikirim ke saudia tingkat pendidikan mereka rata-rata sampai smp dan tanpa pengetahuan bahasa arab atau inggris adalah hambatan tersendiri. Malahan ada juga yang bahasa Indonesianya aja patah-patah. Sehingga setelah 6 bulan mereka ga bisa-bisa bahasa arab, justru kadang majikannya yang jadinya belajar bahasa Indonesia.. :)

Pada praktiknya beberapa pekerja rumah tsb yang akhirnya kabur dari majikannya. Yang laki masih bisa kerja serabutan, penjaga toko atau supir taksi. sedangkan yg perempuan gimana? Wallahu alam, cuma dengar kabar ga enak, bahwa banyak yang kabur dan akhirnya jadi pelacur terselubung.

Sempat bertanya pada supir taksi orang Indonesia yang 'kaburan', kalau kabur gini pulangnya gimana? soalnya passport dipegang majikan. beliau jawabnya, ya nge-'Tarzan'.. maksudnya?? menyerahkan diri ke pihak imigrasi saudia, kemudian mereka akan dipenjara dan dideportasi. Biaya pemulangan akan ditanggung oleh pemerintah RI. Lamanya dipenjara? Tergantung. karena begitu mereka di tangkap, majikan akan dihubungi, majikan yg paling baik akan membiarkan mereka di deportasi tanpa ada tuntutan apa-apa. Tapi rata-rata, majikan yg udah kesal ditinggal kabur akan memberikan tuduhan (fitnah) yang macam-macam, dan gawatnya pemerintah saudia akan lebih memihak warganya tentunya.
Oiya, iqama yang berlaku 2 tahun harus diperpanjang dan diajukan lagi di negara asal. dan jika masa tinggal melebihi ijin iqama, maka akan dikenai denda 10000 SAR (kisaran 24jt rupiah kurs saat ini). Dan tentu saja rata2 si majikan ga sudi nanggung.

Pernah ditanya sama orang pakistan yg juga sangat banyak sebagai pekerja di saudia.
"kenapa orang Indonesia membiarkan wanita mereka pergi ke luar negeri jauh dari rumah untuk bekerja... ?" saya cuma speechless dan tersenyum kecut.

Selama negara kita masih kekurangan pilihan lapangan kerja dan selama masih membolehkan TKW yg tidak berpendidikan cukup untuk keluar negeri bekerja, selama itu pula masalah TKW tidak akan selesai. kasus Sumiati akan hilang dalam beberapa bulan ke depan dan kemudian akan muncul Sumiati Sumiati yang lain.

Saya setuju dengan wacana untuk tidak lagi mengirimkan TKW yg tidak berpendidikan ke luar negeri bekerja. Pemerintah seharusnya punya target mengurangi jumlah TKW yang keluar negeri secara signifikan setiap tahunnya terutama ke negara-negara yang punya track record domestic violence cukup tinggi. seperti di Saudia ini. Walaupun orang-orang saudi lebih senang dengan PRT dari Indonesia dibandingkan PRT dari negara2 lain, semisal Filipin, Nepal, dan Srilanka. Mungkin dengan alasan agama yang sama. Sudah seharusnya pemerintah menjadikan, tidak adanya TKW tidak berpendidikan yang keluar negeri bekerja sebagai salah satu indikator kemajuan ekonomi dalam negeri kita. Devisa dari TKW berkurang tapi kemakmuran dalam negeri meningkat. Dan yang paling penting, rasa terenyuh dan sakit hati manakala ada saudari kita yang diperlakukan semena-mena sudah tidak ada lagi.

Ketika pulang ke Indonesia dan bertemu dengan rombongan TKW yang 'sukses' di bandara Saudia, melihat mereka pulang dengan tertawa-tawa, cekikikan sana-sini, bahagia karena pulang dengan selamat membawa tabungan riyal. Dari percakapan mereka, rata-rata di beri upah 1200-1500 riyal. Dan pas pulang ada juga yang sampai dikasih bonus oleh majikannya ribuan riyal. Malah ada yg udah dipesawat, masih ditelpon ama majikannya untuk ngobrol dan katanya diminta untuk segera kembali ke saudi setelah 3 bulan libur. Yang lucu juga dari percakapan mereka, "... eh kamu enak ya, anak majikannya baru satu, kalau saya ada 4". karena pekerjaan menjaga anak-anak majikannya itu yang paling repot dibanding beres-beres rumah, kata mereka. Melihat saudari sebangsa yang senang jadinya ikut senang juga. Walaupun ruang tunggu bandara jadi riuh kayak pasar karena dipenuhi para TKW kita yang sepertinya tidak mau berhenti ngobrol. kadang tengsin juga ngelihat gaya para TKW, yang duduk jongkok atau kaki di atas kursi, duduk lesehan ngelantai, malah ada yang tiduran cuek dengan gaya superman lg terbang. Abaya sudah dicopot, kelihatan sekarang gaya berpakaian wanita Indonesia.. "Warna-Warni"

Orang-orang saudi sendiri, secara umum, punya sifat jahil, tengil, dan over proud yang di atas rata-rata (sekali lagi, ini pendapat pribadi)... suka nerobos antrian, tidak sabaran ingin dilayanin cepat-cepat, kalau bicara suka teriak... tapi sebaliknya, giliran kita yg perlu, sepertinya sengaja dilambat2in, atau memang mereka kerjanya lambat ya? kalau yg udah pernah ngantri di customs bandara saudi pasti paham... Orang saudi nyetir mobil ugal-ugalan dan parkir sembarangan. Saya perhatikan rambu-rambu lalu lintas kalah banyak dari papan yang bertuliskan zikir kepada Allah. Mungkin pemerintah saudi sendiri sudah nyerah, daripada suruh warganya taat rambu lalu-lintas tapi tetap ugal-ugalan, lebih baik suruh mereka banyak-banyak ingat Tuhan saja...
Tapi saya juga banyak menemui orang saudi yang kebaikannya di atas rata-rata orang baik yg pernah saya kenal di Indonesia... Ibaratnya, orang baik saudi seperti malaikat dan orang jahatnya udah kayak setan beneran...


Saudi Arabia,
Negara yang sumber dananya adalah minyak
Bangunan dan jalan-jalannya diselesaikan oleh tangan-tangan raksasa buruh Pakistan
Jalan-jalan, taman-taman, dan mall-mall nya dirawat dan dibersihkan oleh orang Bangladesh
SPB (Sales Promotion Boy) di mall-mall, pekerja hotel, office boy di kantor-kantor, perawat dan bidan di Rumah Sakit diisi oleh orang Filipina
Pekerjaan rumah tangganya diselesaikan dan anak-anaknya diantar ke sekolah oleh orang Indonesia
Tukang cukurnya orang India


Wassalam,
Takbir

Sunday, October 17, 2010

Ke Madinah Al Munawarah


Kamis, 14 Oktober 2010, kurang sebulan lagi bulan haji, saya putuskan untuk berziarah ke Madinah Al Munawarah. Jalur yang saya ambil adalah via Makkah ke Madinah. Sekitar pukul 12.00 baru berangkat dari Jeddah. Tidak seperti waktu Ramadhan, kali ini jumlah orang yang ingin berangkat ke Makkah sangat kurang, sehingga harus menunggu lama hingga mobilnya penuh, padahal kami cuma menggunakan mobil sedan dengan 4 penumpang. Apalagi para supir rebutan penumpang. Tidak seperti sebelumnya juga, supir memeriksa dulu iqamah dan passport setiap penumpang. Di antara penumpang cuma saya yang pakai passport dengan cap stempel visa perpanjangan tiap bulan, membuat supirnya agak ragu-ragu untuk membawa saya. Perjalanan menuju Makkah lancar hingga mendekati gerbang check point pemeriksaan dokumen. Area Makkah restricted buat non muslim. Lalu lintas jadi macet karena mobil berjalan pelan untuk diperiksa satu-satu. Saya lihat petugas juga cuma melongok ke mobil melihat jika ada yang nampak mencurigakan. Sebelum-sebelumnya tidak ketat seperti ini, walaupun tetap ada pemeriksaan. Beberapa mobil di depan kami meluncur tanpa ada pemeriksaan, petugasnya cuma melihat-lihat dari luar. Tetapi tiba giliran mobil kami, saya merasa petugas yang memperhatikan saya dari luar menghentikan mobil dan meminta semuanya mengeluarkan ID masing-masing. Wah deg-degan juga, sempat tidak dibolehin lewat, gimana? Alhamdulillah tanpa ada kata dari mulut si petugas, ID kami dikembalikan dan dibolehkan melanjutkan perjalanan. Malah 2 orang bapak yang dari Sudan di samping saya yang kelihatan paling lega, sambil terus berucap Alhamdulillah, bisa terus masuk ke Makkah.

Di Masjid Al Haram, tidak seramai waktu Ramadhan, kita bisa leluasa mencari tempat yang cocok dan sebisa mungkin tidak ada yang menghalangi pandangan kita ke Ka’bah. Alhamdulillah saya sempat untuk setidaknya menyentuh Ka’bah dan sholat 2 rakaat di Hijr Ismail. Hijr Ismail adalah tempat di mana Nabi Ismail a.s dan ibunya Siti Hajar di makamkan. Persis di dekat Ka’bah. Untuk mendekati Hajar Aswad masih sulit, karena orang-orang berdesak-desakan dan malah sikut-sikutan di sisi Hajar Aswad.

Setelah sholat Ashar, saya ke tempat bus Saptco ngetem tidak jauh dari Masjid Al Haram, lurus dari arah pintu 79 King Fahd Gate. Saptco adalah perusahaan bus yang menyediakan perjalanan darat ke seluruh wilayah Saudi Arabia hingga ke beberapa Negara teluk dan timur tengah lainnya. Untuk tiket Makkah ke Madinah Al Munawarah biayanya 55 SR. Busnya kira-kira mirip dengan bus Primajasa Bandung-Jakarta. Bus Saptco ini punya jadwal keberangkatan yang teratur, setiap 2 jam bus berangkat. Walaupun masih belum penuh. Seragam supirnya pun kayak pilot pesawat komersil. Bus yang saya tumpangi ini, supirnya orang Indonesia. Bus meninggalkan Makkah Sekitar pukul 16.30. Perjalanan sekitar 5 setengah jam. Selama perjalanan dalam bus saya ketemu dengan orang Indonesia, nama mas Alex Mahesa. Muslim walau namanya gak muslim. Asli dari Rembang, Jawa Tengah. Baru sekitar 1 setengah tahun di Saudi, tapi udah bisa bercakap-cakap dengan bahasa Arab. Kata mas Alex, dia sering disangkain orang filipin, karena berkulit lebih terang dibanding rata-rata orang Indonesia dan mata sedikit sipit. Mas Alex bekerja di restaurant. Beliau ini ditransfer, dipindahkan, atau dimutasi dari Makkah ke Madinah, gara-gara sempat bertengkar dengan rekan kerjanya yang orang Mesir. Dia yang dipindahkan, karena atasan mereka juga orang Mesir hehehe… Sepanjang perjalanan ke Madinah, pemandangannya adalah dataran yang luas dengan pasir dan batu kerikil serta bukit-bukit batu yang berpasir nampak dari kejauhan. Ketika matahari telah tenggelam, diluar keliatan benar-benar gelap tidak ada tanda-tanda kehidupan. Setelah sempat berhenti di tengah perjalanan untuk istirahat, akhirnya kami tiba di Madinah Al Munawarah sekitar pukul 22.30. Dari terminal Saptco, saya dan mas Alex naik taksi 10 SR untuk ke Masjid Nabawi. Saya juga baru tau, kalau masjid Nabawi di Madinah dikenal juga sebagai Al Haram. Sebenarnya dari terminal ini, jaraknya sudah cukup dekat, cuma karena belum tau makanya kami memlilih naik taksi. Lagian mas Alex karena baru pindahan ke Madinah makanya saya bantuin bawa barang bawaannya, yang lumayan juga beratnya. Mas Alex akan dijemput oleh temannya sekitar pukul 02.00, dan mereka janjian ketemu di Masjid Nabawi. Ketika kami tiba di Masjid Nabawi, pintu Masjid sudah di tutup. Tapi masih banyak orang yang berkeliaran di halaman Masjid yang sangat luas dan lantainya sedang dibersihkan. Disini kami melihat banyak sekali Jamaah Haji Indonesia dari kloter awal yang mulai diberangkatkan sekitar 3 hari yang lalu. Berkenalan dengan bapak yang ketua kloter dari Jepara, yang sedang keliling mencari jamaah kloternya yang sudah 2 hari gak pulang-pulang, mungkin tersesat dan tidak tahu jalan kembali ke penginapan. Kami yang sudah lapar, berkeliling mencari-cari tempat makan hingga ketemu warung Indonesia, si Doel Anak Madinah, dengan menu andalan bakso goyang lidah. Warung Indonesia tetapi sebagian besar pelayannya orang Bangladesh, yang bisa bahasa Indonesia dikit-dikit.


Dihalaman Masjid banyak orang yang tidur, karena sudah jam 02.30 dan mas Alex sudah dijemput temannya, saya yang sudah ngantuk berat juga tertidur, melantai seperti yang lain. Diliatin oleh jamaah haji Indonesia yang masih mondar-mandir. Mungkin mereka berpikir, pasti orang ini abis diusir ama majikannya, makanya sekarang jadi gelandangan di sini… hahahaha…

Pukul 04.00 azan berkumandang, dan pintu-pintu masjid mulai dibuka. Seperti halnya di Masjid Al Haram Makkah, azan dikumandangkan sejam sebelum azan subuh. Saya terbangun, pergi wudhu dan segera cari posisi yang nyaman di dalam Masjid. Masih terkantuk-kantuk menunggu waktu sholat subuh. Setelah sholat subuh, keluar untuk cari sarapan, disinilah saya melihat sudah banyak jamah haji yang berkumpul di Madinah dari berbagai Negara. Indonesia, Malaysia, Thailand, Bangladesh, India, Pakistan, Afghanistan, Turki, dan Negara-negara Arab. Dan setiap rombongan menggunakan beraneka warna seragam untuk menandai kelompok rombongan mereka. Rombongan yang paling dominan tentu saja dari Indonesia. Bahkan untuk setiap kloter dari provinsi yang berbeda menggunakan seragam yang beda pula. Dari semua seragam yang ada, 3 ternorak adalah dari kontingen Jawa Barat dengan seragam berwarna pink terang, kontingen Malaysia dengan seragam ungu sambil bawa-bawa bendera segala, dan masih dari kontingen Malaysia yang pakai blero persis yang dipake polisi lalu lintas di Indonesia. Hampir semua kontingen menggunakan kacu dengan tulisan nama rombongannya atau biro travelnya. Sehingga saya berpikir rombongan jamaah haji ini mirip rombongan jambore pramuka di Cibubur.


Disekitar Masjid, para pedagang kaki lima mulai teriak-teriak “Murah.. murah… 5 riyal saja”, para pedagang berbahasa Indonesia menjajakan dagangannya, karena pelanggan utamanya tentu saja jamaah Indonesia. Yang sudah terkenal tukang belanja. Baru datang 3 hari sudah mulai belanja habis-habisan, malah ada yang nanya-nanya tempat pengiriman barang ke Indonesia. Ingin borong sajadah dan macam-macam barang lainnya, yang bisa saja made in Tanah Abang. Yang lucu, ada pedagang Arab yang sudah setengah kesal menjelaskan kalau harganya 10 riyal (dalam bahasa Indonesia), tetapi si pelanggan tetap bertanya. Ternyata pelanggannya adalah jamaah asal Thailand, yang mirip dengan orang Indonesia… hahaha…

Jamaah haji Indonesia sebenarnya menikmati pelayanan selama haji yang lebih baik di bandingkan jamaah haji dengan Negara lain. Hotel dan penginapan mereka dekat dengan Masjid Nabawi. Disediakan shuttle bus yang mengantar keliling kota Madinah. Bandingkan dengan jamaah Afghanistan yang letak penginapan mereka sangat jauh sehingga mereka memilih tidur disekitaran Masjid untuk bisa mengikuti setiap sholat jamaah. Untuk berziarah keliling Madinah pun mereka urunan untuk menyewa minibus. Sosok pria-pria Afghan sangat mencolok dengan badan mereka yang tinggi tegap, dan wajah yang keras yang menggambarkan betapa keras pula kehidupan yang mereka jalani di negeri asalnya Afghanistan. Tapi aura mereka juga kelihatan beda. Semangat untuk beribadah mereka terlihat begitu menggebu.

Pukul 08.00 saya kembali masuk ke Masjid Nabawi, kali ini saya berjalan terus masuk ke dalam menuju tempat di mana Nabi Muhammad SAW di makamkan. Banyak Jamaah yang melakukan sholat 2 rakaat dan saya pun melakukannya. Saya membaca sholawat atas Nabi SAW sebanyak-banyaknya, hingga merasa haru ketika berada dekat dengan makamnya Nabi SAW.

Di Madinah Al Munawarah bukan cuma Masjid Nabawi yang perlu dikunjungi tapi juga beberapa tempat yang sangat penting dalam sejarah agama Islam. Di depan Masjid banyak yang menawari untuk ziarah hanya dengan membayar 10 riyal. Menggunakan mini bus, kita di bawa ke tempat bersejarah di sekitar Madinah. Yang pertama kami di bawa ke Padang Uhud, untuk berziarah ke makam para syuhada yang gugur di perang Uhud.


Selanjutnya ke Masjid Qiblatayn, atau Masjid 2 kiblat. Di masjid inilah Nabi SAW diperintahkan untuk mengubah qiblat (arah saat melaksanakan sholat), yang semula mengarah ke Masjid Al Aqsa di Jerusalem, Palestina, menjadi ke arah Ka’bah di Masjid Al Haram Makkah.

Selanjutnya ke Masjid Quba. Masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW ketika tiba di Madinah setelah berhijrah dari Makkah. Di Al Qur’an disebutkan bahwa, masjid pertama ini didirikan diatas fondasi keimanan dan kesungguhan hati. Di Masjid ini Nabi bermalam sekitar 20 hari menunggu Ali bin Abi Thalib r.a menyusulnya dari Makkah untuk kemudian bersama-sama masuk ke Madinah. Rumah Ali bin Abi Thalib r.a juga berada di belakang Masjid ini. Dalam sebuah hadits, disebutkan bahwa setidaknya sekali dalam seminggu, Nabi SAW menyempatkan ke masjid Quba, dengan jalan kaki atau dengan naik unta, untuk sholat 2 rakaat di Masjid ini. Sholat 2 rakaat di Masjid Quba nilai pahalanya sama dengan pahala umroh.


Kembali ke Jeddah setelah sholat Jum’at dan mampir makan bakso Solo depan Masjid. Kali ini bus langsung Madinah- Jeddah dengan harga tiket 55 SR. Perjalanan juga sekitar 5 setengah jam. Hampir sama dengan lama waktu Makkah-Madinah.

Today’s MVP (Most Valuable Prayer) in Masjid Nabawi Madinah Al Muwarah.



Wassalam,


Takbir

Friday, August 20, 2010

Ke Masjid Al Haram Makkah


Kamis 8 Juli 2010, baru seminggu tiba di Jeddah, Saudi Arabia, teman mengajak saya untuk ke Makkah. Kebetulan ada pamannya yang sedang umroh dan dia ingin mengunjunginya. Ajakan itu tentu saja sulit untuk ditolak. Secara, banyak orang yang ingin ke Makkah tapi belum punya kesempatan. Ka'bah sudah terbayang dipelupuk mata. Kami berangkat sekitar pukul 12:30 dan tiba di Masjidil Haram sekitar pkl 14:00, langsung saja saya bergegas masuk ke dalam masjid dan sedikit demi sedikit mulai terlihat bangunan kotak hitam yang selama ini cuma saya lihat lewat televisi, gambar di sajadah, atau di kalender. Ada rasa segan, sungkan, takut, tapi perasaan rindu ingin segera bertemu terasa lebih menguasai diri. Berdiri di depan Ka'bah dan sholat langsung cuma sekitar 10 meter di hadapannya, menjadi pengalaman spiritual yang luar biasa, seakan-akan berhadapan langsung dengan Allah SWT. Inikah mungkin yang diistilahkan dengan Ihsan? Ketika sholat pandangan saya selalu tertuju ke Ka'bah. Kalau biasanya juga ke Ka'bah tapi yang ada di sajadah hehehehe ... kali ini ke Ka'bahnya langsung. Setelah sholat saya cuma duduk bengong memandangi Ka'bah. Masih perlu meyakinkan diri, ini mimpi apa beneran sih? Can't take my eyes from you. Saya juga sempat memutari Ka'bah sekali, kemudian berhenti. Nanti... Nanti saya sempurnakan jika waktunya diberi kesempatan dan kemampuan melaksanakan haji. Insha Allah. Setelah sholat Ashar berjamaah, kami akhirnya kembali ke Jeddah. Bersama dengan doa Insha Allah saya akan ke sana lagi.

Kesempatan kedua ke Makkah, pada kamis 9 Ramadhan 1431H (19 Agustus 2010). Selain ingin bertemu dengan tante saya yang sedang umroh, juga saya meniatkan untuk bisa mengikuti langsung sholat tarawih di Masjiil Haram. Berangkat siang hari pukul 14:00, kali ini saya berangkat sendiri. Untuk ke Makkah dari Jeddah dengan kendaraan umum, kita mesti ke semacam terminal yang di sebut Bamakkah, yang terletak dekat dari Al Balad (wilayah kota tua Jeddah). Di sini bisa naik taksi patungan dengan orang lain atau dengan minivan berisi sekitar 15 orang dengan biaya cuma 10 SAR (Rp 25.000). Perjalanan cuma sekitar satu jam, dan kita akan didrop di terowongan bawah komplek Masjidil Haram, tinggal naik dengan escalator dan akan langsung keluar di depan King Fahd gate 1. Langsung masuk ke dalam masjid untuk mengucapkan salam ke Ka'bah. Kali ini didalam masjidil Haram sangat ramai dan penuh dengan Jama'ah yang berdatangan dari seluruh penjuru dunia Muslim, melaksanakan umroh di bulan Ramadhan. Janjian dengan tante saya bertemu setelah sholat Ashar karena sulit sekali mandapatkan tempat kosong, jika kami meninggalkan tempat kami. Masjid sebesar ini masih 'kurang besar' untuk menampung banjir manusia yang mendatanginya.

Setelah bertemu dengan tante saya, kami kemudian pisah lagi sekitar pukul 17:30 untuk bergegas cari tempat di dalam masjid untuk berbuka puasa. Benar-benar sulit cari tempat yang lowong. Orang-orang sudah 'standby' setelah ashar hingga setelah tarawih. Berada di masjid dari pukul 17:30 hingga setelah tarawih pkl 23:30, bikin kaki jadi lumayan kebas juga. Tapi terbayar dengan kepuasan bisa merasakan buka puasa dan sholat tarawih dan witirnya Masjidil Haram, komplit 23 rakaat. Bermalam di dalam Masjid, dan memang sangat ramai dengan orang-orang yang tidur di dalam sana hingga sahur. Azan berkumandang sekitar pkl 03.45 pagi, awalnya saya sangka sudah subuh ternyata belum. Alhamdulillah, hampir saja tidak sahur. Setelah sholat subuh dan berpamitan dengan tante, saya bergegas kembali ke Jeddah, kali ini dengan menyewa taksi, berempat dengan orang lain. Masing-masing 30 SAR. Diluar ramadhan dan musim haji sewanya mestinya lebih murah. Bagaimanapun juga, 10 Ramadhan 1431H, bisa menjadi hari terbaik yang pernah saya habiskan.

Jamaah yang bertawaf setelah tarawih, sekitar pukul 23.30 waktu Makkah

video


Makkah Clock Royal Tower, tepat di depan King Fahd Gate 1. Bisa jadi patokan kalau pusing muter-muter. Dan bisa jadi nanti akan menjadi patokan waktu seluruh dunia.



Wassalam,
Takbir

Wednesday, May 19, 2010

Selimut Debu

Selimut Debu
Penulis: Agustinus Wibowo
(ISBN: 978-979-22-5285-9)
Saya berpikir bahwa ketertarikan Agustinus pada Afghanistan justru dipicu oleh berita siaran berita televisi pada Maret 2001 yang mengabarkan Taliban akan segera menghancurkan patung Buddha tertinggi di dunia yang terletak di jantung Afghanistan. Seperti yang dia tuliskan dalam prolog buku ini.


Afghanistan, sebuah nama yang terus bergaung di sudut benak. Gunung gersang, padang kering, langit biru kelam. Ada jutaan perempuan dikurung dalam rumah dan kerudung burqa, pria dan anak-anak yang menggantungkan nasib pada hidup yang diiringi gumpalan debu, desing peluru, dan semerbak mesiu. Ada pula yang terengah melakukan perjalanan panjang di atas truk, gerobak, keledai, atau tanker bobrok melintasi perbatasan negeri.


Patung Buddha di negeri Afghan? Aneh juga kedengarannya. Lalu, siapa pula Taliban? Saya memandang lekat-lekat televisi yang menyiarkan orang-orang berjenggot lebat, berjubah hitam dan berserban kain hitam panjang menjuntai hingga ke pinggang. Mereka berbicara penuh semangat. Tentang perjuangan, tentang agama, tentang kelaparan dan dunia yang lebih mementingkan patung daripada penderitaan manusia Afghan. Ada yang menghujat, ada yang memuja. Taliban adalah fenomena pergantian milenium. Di kala kita merayakan dengan pesta kembang api dan perhelatan akbar, nun jauh di sana, orang-orang bereserban itu meneriakkan penegakan sebuah emirat di atas puing reruntuhan perang.

Di awal perjalanan ke Afghanistan, sepertinya Agustinus akan melaluinya seperti turis-turis nekat lainnya yang 'sekedar ingin melihat' Afghanistan. Berhasil memasuki Afghanistan sudah seperti pencapaian istimewa. Menyaksikan Afghanistan seperti apa yang ada di bayangannya sebelum berangkat. Dan dia berhasil berdiri di hadapan sisa-sisa puing patung Buddha raksasa yang dihancurkan Taliban di Bamiyan. Hingga dia bertemu seorang pria pelancong dari Jepang yang dia gambarkan dengan wajahnya yang serius, tak ada senyum di bibirnya. Jenggot tipis yang menghiasi wajah lancipnya membuat ia mirip filsuf konfusius. Matanya segaris, suram. Kulitnya putih, namun tak terawat, tercoreng debu di sana-sini. Pria Jepang ini berbalut shalwar qamiz kumal. ditambah selimut yang melintang di pundaknya. Dia lah yang mengenalkan dan menunjukkan Agustinus jalan menuju Wakhan. "Wakhan? Tempat apa itu?"

"Itu adalah surga yang tersembunyi. Di peta ini bisa kau lihat. Wakhan itu di sini," katanya seraya menunjuk tanah sempit menjulur panjang di barat laut peta Afghanistan, "diapit Tajikistan, Cina dan Pakistan. Begitu terpencil dan terlupakan. Sebuah surga di ujung dunia, terkunci waktu."

"Untuk mencapainya," lanjut si pria Jepang, "kau harus melintasi Kunduz, Taloqan, sampai Badakhshan. Paling tidak butuh empat hari perjalanan dari Kabul."

Lelaki Jepang ini sudah berkelana ke pelbagai penjuru Afghanistan, dari utara, tengah, hingga ke selatan. Semuanya dengan mencegat kendaraan di jalan. Tak pernah dia tinggal di penginapan, selalu di kedai teh, yang konon selalu menyediakan tempat bermalam gratis bagi siapa pun yang makan di sana. Meskipun saya tak bisa membayangkan tidur di tempat seperti ini. Karpetnya jorok. Lalatnya ratusan, berdenging-denging ribut bak orkestra sumbang. Belum lagi kalau harus dipaksa makan di sini hanya demi menginap gratis. Sudah berhari-hari saya kena diare, gara-gara menyantap daging kebab Afghan. Daging kambing yang seharusnya merah segar, semua tampak hitam dikerubungi lalat. Selain debu, makanan itulah yang menjadi santapan sehari-hari di negeri ini.

Pria Jepang itu masih menunjukkan tempat-tempat mahaindah di peta robeknya. Ada Salang Pass yang menurutnya adalah jalur gunung terindah yang pernah ia lintasi, di samping Karakoram di Pakistan dan Leh di Kashmir. Saya merasa ikut bertualang bersamanya dalam angan, mengembara melintasi kota-kota kuno yang ditunjukkannya di atas peta.

Berkeliling Afghanistan dengan menumpang truk, menginap gratis di kedai teh kumuh, berkawan dengan dengungan lalat gemuk, mengunjungi dusun terpencil di balik gunung, mencari Firdaus yang tersembunyi, semuanya itu tiba-tiba menjadi mimpi saya di malam-malam berikutnya. Hari itu, dalam sebuah kedai teh Bamiyan yang penuh lalat dan debu, saya terinisiasi.

Khaak, dalam bahasa Dari dan Pashto, berarti debu. Debu yang menyelimuti seluruh penjuru Afghanistan, menjadi makanan sepanjang hari, mengalir bersama embusan napas. Tak ada yang bisa lari dari khaak. Kerudung pria Afghan tidak menghalangi khaak. Khaak terbang menembus kisi-kisi burqa yang membungkus kaum perempuan. Bulir-bulir debu mengalir bersama angin, menyelinap melalui setiap rongga udara, langsung menembus ke sanubari.

Tak hanya debu, khaak juga berarti tanah kelahiran, tumpah darah, segenap hidup dan mati. Debu yang beterbangan dari utara hingga ke selatan, dari timur hingga ke barat, menyelubungi negeri Afghan, menyuapi manusianya, memberi embusan hidup sekaligus mencabutnya. Ia juga berarti watan, negeri leluhur, akar sejarah dari generasi ke generasi. Ia adalah kebanggaan sebuah bangsa yang angkuh, gagah, tak terkalahkan, yang menguak dari kepulan kegersangan. Kita menyebutnya "tanah air", Afghanistan menyebutnya kepulan debu. Khaak adalah liang lahat. Kepada khaak, bulir-bulir debu, semua perjuangan Afghan ini akan kembali.  Khaak adalah Afghanistan

Buku Selimut Debu ini membawa kita merasa ikut bertualang dalam angan bersama Agustinus, mengembara melintasi kota-kota kuno, tempat terpencil dengan keberagaman kehidupan warga Afghanistan. Perasaan yang sama yang mungkin dirasakan Agustinus ketika mendengar pria Jepang itu   berkisah tentang tempat-tempat yang dikunjunginya di Afghanistan.



Wassalam,
Takbir