Wednesday, September 7, 2011

Gambaran mengenai Indonesia di Stadion GBK Senayan


Kita bisa melihat gambaran bagaimana kehidupan Negara Indonesia berjalan jika anda sering atau pernah menyaksikan Timnas PSSI bertanding di Senayan. Terakhir saya baru saja menyaksikan pertandingan Timnas PSSI melawan Bahrain dalam kualifikasi Piala Dunia 2014. Timnas kalah 0-2. Pertama kalinya sekitar tahun 2005, ketika saya awal kali tiba di Jakarta. Hal-hal berikut saya amati setelah berulang kali menyaksikan pertandingan yang dilakoni Timnas PSSI

Kita mempunyai stadion berkapasitas 88 ribu penonton. Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Senayan merupakan terbesar ke-8 di dunia dari segi kapasitas penonton. Menggambarkan banyaknya jumlah penduduk negeri ini, serta kemampuan negara kita membangun prasarana olahraga yang megah.

Tiap kali Timnas PSSI bertanding, terutama di pertandingan resmi, lebih dari 90 persen dari kapasitas tempat duduk selalu penuh. Bahkan tidak jarang penonton membludak dan tiket yang tersedia habis. Banyak calo yang menangguk untung ketika situasi permintaan lebih banyak dari jumlah tiket yang tersedia. Walaupun tiket pertandingan mahal ditambah mark up oleh para calo, tetap saja tiket tersebut laku bak kacang goreng. Penonton yang datang bukan hanya dari wilayah DKI dan sekitarnya tetapi juga dari kota-kota lain di pulau Jawa dan dari luar Jawa. Menggambarkan bahwa rakyat kita banyak yang mampu. Ataukah mereka cuma memaksakan beli tiket yang mahal demi hadir langsung mendukung Timnas? Setidaknya ada gambaran bahwa ekonomi bangsa kita tidak payah-payah amat.

PSSI dan panitia penyelenggara pertandingan Timnas selalu mengulang kesalahan yang sama dalam sistem penjualan tiket. Terutama dalam hal publikasi, kapan dan dimana tiket akan dijual. Selama ini kita mesti datang langsung ke stadion untuk mencari tahu hal tersebut. Informasi yang diberikan oleh siaran televisi dan koran suka simpang siur. Mengatur penjualan tiket untuk 88 ribu penonton memang bukan hal yang gampang, tetapi tentunya bukan hal yang sulit-sulit amat apalagi Timnas bukan sekali setahun main di senayan. PSSI menurut saya belum punya standar baku yang efektif untuk sistem penjualan tiket (kalau ada yang tau tolong dishare). Mau pengurus berganti, kalau sistemnya sama saja, tidak akan ada perbaikan yang signifikan. Sedikit memberi gambaran pemerintahan kita sekarang yang nampak berjalan ditempat dan tidak terarah mengatur negara. Saran saya, kalau mau beli tiket pertandingan Timnas, datanglah pada hari-H pertandingan, datangi loket yang berada di sebelah kiri pintu gerbang Istora Senayan, dari pengalaman saya, loket ini lebih kurang antriannya dibandingkan loket-loket yang lain.

Kalau anda mau nonton di senayan, belilah tiket kategori 1. Tiket ini dibawah harga VIP timur. Karena dengan tiket kategori 1 anda bisa duduk di VIP timur/barat. Caranya anda masuk saja dulu sesuai pintu masuk tiket kategori 1, setelah di dalam anda bisa melangkahi pembatas untuk VIP yang hanya sepinggang. Cukup melangkah tidak perlu lompat, anak SD juga bisa lewat. Dari dulu hingga sekarang masih seperti itu. Polisi dan petugas tidak mampu menghalau. Polisi yang ditugaskan berjaga di stadion selalu polisi muda yang baru lulus, polisi yang masih culun, pemalu, takut-takut, dan ga ada wibawa. Penonton yang rata-rata datang dengan semangat juang 45 tidak ada rasa takut sama sekali pada polisi-polisi muda yang sempritan-pun ga punya. Para polisi muda tersebut malah asik mencari posisi terbaik untuk menonton gratis bukannya berjaga. Gambaran bagaimana Polisi kita sehari-harinya bertugas mungkin memang seperti itu. Penyelenggaraan terbaik menurut saya ketika Piala Asia 2007. Petugas tersebar dengan sangat bagus di pembatas kursi VIP mencegah penonton bermental kampungan melangkahi pembatas. Bahkan penonton di sektor VIP diarahkan duduk sesuai nomer kursinya. Tapi memang petugas yang disiagakan juga harus banyak. Solusi permanen menurut saya adalah dengan meninggikan pembatas sektor VIP agar tidak bisa lagi dilewati penonton yang tidak berhak untuk duduk disitu, dan para penonton yang bayar tiket VIP tidak diambil haknya.

Jumlah perokok di Indonesia yang sangat tinggi bisa anda buktikan ketika menonton di stadion. Enam dari sepuluh pria Indonesia adalah perokok aktif. Kiri kanan atas bawah anda dikelilingi asap rokok. Stadion belum jadi tempat bebas rokok. Perda DKI nampaknya tidak berlaku di senayan. Padahal akhir-akhir ini menonton pertandingan Timnas mulai menjadi tujuan rekreasi keluarga, wanita dan anak-anak jumlahnya sangat banyak ikut menyaksikan pertandingan di Stadion. Dan saya belum pernah melihat ada spanduk bertuliskan larangan merokok di dalam stadion. Mungkin memang belum terlintas dipikiran pengurus PSSI atau sengaja tidak dipasang. Mau gimana lagi, sebagaimana yang kita ketahui, yang mau menjadi sponsor utama Liga Sepakbola Indonesia selama ini adalah perusahaan rokok.

Orang Indonesia suka narsis tapi nasionalis dan optimis namun bisa segera berubah jadi anarkis. Para pendukung timnas datang dengan berbagai atributnya yang didominasi warna merah, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sebelum pertandingan dimulai, siapapun lawannya, pendukung Timnas selalu yakin bisa menang. Keadaan akan berbalik mencaci maki pemain dan pelatih Timnas hingga pengurus PSSI bahkan Presiden RI, ketika Timnas bermain buruk apalagi kalah. “Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku, Ku yakin hari ini pasti menang.. Kobarkan semangatmu, Tunjukkan sportivitasmu, Ku yakin hari ini pasti menang..” Pemain Timnas kita sudah bermain sportif, bermain penuh semangat hingga peluit akhir dan keluar lapangan dengan kepala tegak walau akhirnya kalah, tetapi penonton sendiri yang suka ga sportif. Dimulai ketika lagu kebangsaan lawan dinyanyikan, teriakan “Huuu…” dan lengkingan terompet tiada henti, ketika lawan berhasil mencetak gol, mercon ditembakkan ke arah pemain cadangan lawan yang sedang melakukan pemanasan di pinggir lapangan, dan membakar benda-benda apa saja di kursi stadion ketika Timnas akhirnya kalah. Saya selalu kecewa ketika melihat Timnas kalah, tetapi lebih kecewa dengan sikap tidak sportif para penonton kita. Sehari-harinya mungkin memang begitulah wajah bangsa kita, yang masih kurang bersyukur, yang masih kurang berterima kasih, yang masih tidak bisa berhenti ribut dengan sesamanya dan sulit akur, yang susah diatur. Indonesia adalah bangsa yang besar yang tentu butuh pemimpin besar. Saya berharap kelak Indonesia akan dipimpin oleh seorang pemimpin yang berkharisma seperti Soekarno, tegas seperti Soeharto, cerdas seperti Habibie, toleran seperti Gus Dur, tenang seperti Megawati, dan mampu menjaga citra seperti SBY.

Pengalaman menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya bersama puluhan ribu penonton yang lain merupakan pengalaman yang tidak akan terlupakan. Satu suara bergemuruh, stadion seakan mau runtuh, ego kesukuan dan daeraisme segera luruh, nasionalisme akan tumbuh. Stadion GBK Senayan adalah ibarat kiblat untuk menebalkan rasa nasionalisme bangsa Indonesia yang mesti diziarahi sekali seumur hidup.

“… menggemari tim sepak bola negeri sendiri adalah 10%mencintai sepak bola dan 90% mencintai Tanah Air” (Andrea Hirata-Sebelas Patriot, hal.88)


Wassalam,
Takbir
-Pencinta Timnas PSSI, penikmat sepakbola, dan komentator amatiran-

Catatan: Foto-foto dari VIVAnews.com

No comments: