Sunday, June 12, 2011

Turki Trip - Istanbul (1)


Akhir bulan Mei, tiba di bandara Ataturk Istanbul, pukul 7 pagi. Suhu udara di Istanbul sangat sejuk. Saat yang paling tepat mengunjungi Turki adalah akhir bulan Mei hingga pertengahan Juni, karena suhunya sejuk sangat bersahabat, waktu siang lebih panjang, dan belum memasuki waktu liburan sekolah jadi belum terlalu ramai. Di dalam bandara kedatangan tinggal mengikuti petunjuk arah untuk pembayaran visa. Sejak tahun 2009, setelah kunjungan kenegaraan Presiden SBY ke Turki, passport Indonesia bisa mendapatkan visa on arrival, single entry, 30 hari, seharga USD 25. Tanpa isian form apa-apa, cukup menunjukkan passport dan bayar, sticker visa pun ditempelkan di passport. Selanjutnya di imigrasi juga tidak ditanya apapun, cuma diinput dan stempel entry pun mendarat dengan mulus di atas visa.

Selanjutnya, bagaimana menuju hostel? Saran saya, cari hostel yang berada di sekitar komplek Sultan Ahmet (Blue Mosque). Sangat banyak hotel di area ini, dan paling mudah dicapai. Sesuai petunjuk bahwa cara terbaik dan yang terpenting termurah adalah dengan naik Metro atau kereta listrik. Begitu keluar dari tempat pengambilan bagasi ikuti papan petunjuk Metro. Dari pintu keluar ke sebelah kanan kemudian dengan tangga escalator ke bawah, sebelum tangga escalator di sebelah kiri ada Money Changer. Di sebelah kanan tempat masuk/turun ke jalur Metro ada mesin Jeton atau tempat kita membeli koin Jeton buat akses masuk. Harga 1.75 TL. Masukkan uang kertas pecahan 5, 10, 20 TL dan tekan tombol OK, maka koin plastik jeton akan keluar beserta recehan kembaliannya. Jika ingin beli dua koin atau lebih, tekan tombol Select sebelum tombol OK. Dari bandara, kita turun di pemberhentian terakhir, Aksaray. Keluar dari Stasiun Metro, berjalan ke bawah ke jalan buat pejalan kaki belok kanan dan kemudian menyeberang jalan. Terus berjalan ke sebelaha kanan hingga melihat jembatan penyeberangan. Naik ke jembatan penyeberangan dan turun ke halte Tramvay yang jalurnya ada di tengah, ambil yang arah Sirkeci. Koin jeton yang sama dengan Metro juga dipakai buat akses halte Tramvay. Dari halte ini (Halte Yusuf Pasha), kita berhenti dihalte ke-5, halte Sultan Ahmet. Buat yang sudah terbiasa naik busway, pasti akan cepat mengerti. Keluar dari halte Sultan Ahmet, tinggal jalan sekitar 20 meter ke bawah sejajar dengan jalur Tramvay kemudian belok kanan di sebuah tempat terbuka, maka disebelah kanan kita adalah Masjid Sultan Ahmet atau Masjid Biru dan di sebelah kiri adalah Hagia Sofia. Ikuti petunjuk selanjutnya dari hostel masing-masing untuk menemukan lokasi hostel.

Tiba di Hostel Antique, tanpa reservasi sebelumnya, untungnya ada dorm yang available. Malam pertama dapat dorm dengan kamar mandi didalam (19 Euro) dan dihari kedua mesti pindah ke dorm yang kamar mandi diluar (16 Euro). Kamu beruntung, kata penjaga Hostelnya, tanpa reservasi bisa dapat tempat, soalnya sudah mulai masuk peak season. Karena check in baru bisa setelah jam 1 siang, maka saya menitipkan backpack yang besar kemudian berjalan menuju Hagia Sofia. Hagia Sofia, dibuka buat pengunjung dari jam 08.00-20.00. Tiket masuk 20 TL.


Hagia Sofia yang awalnya merupakan Gereja yang dibangun di masa kekuasaan Romawi Byzantine yang kemudian dijadikan Mesjid oleh Sultan Mehmet ketika berhasil menaklukkan Konstantinopel, dan akhirnya dijadikan Museum setelah Turki menjadi Republik oleh presiden pertama Turki, Mustafa Kemal Ataturk. Hagia Sofia adalah museum yang paling banyak dikunjungi turis di Turki. Secara pribadi, saya setuju Hagia Sofia dijadikan Museum, karena latar belakang sejarah yang dimilikinya. Hagia Sofia adalah milik umat Kristen dan umat Islam. Dengan dijadikan museum maka bisa dinikmati oleh semua kalangan. Lagipula tepat didepan Hagia Sofia ada Mesjid Biru yang besar dan megah buat umat Muslim beribadah. Konon ketika Sultan Mehmet sang Penakluk memasuki Hagia Sofia, terkagum-kagum dengan keindahan bangunannya, menjumpai seorang penjaga gereja yang memalu tiang hendak merusak atau bahkan merubuhkan Hagia Sofia. Dia tidak rela Hagia Sofia jatuh ke tangan Muslim. Sang Sultan pun segera memerintahkan menangkap dan memenggal orang tersebut. Di langit-langit dan dinding bangunan masih tersisa dengan jelas mosaic dan gambar ilustrasi tentang Yesus, Bunda Maria, Kaisar Romawi dan Ratunya, serta beberapa gambar Malaikat bersayap. Masih belum jelas bagi saya kenapa mosaic-mosaic tersebut masih tersisa, mengingat Hagia Sofia pernah dijadikan Mesjid, dan di dalam Mesjid harusnya tidak boleh ada gambar manusia atau semacamnya. Tapi baguslah, dengan begitu kita masih bisa menikmati sisa-sisa peninggalan Hagia Sofia ketika masih menjadi Gereja. Lantai dua merupakan tempat buat Ratu Byzantine ketika menghadiri acara di gereja. Ada jalan landai buat ke lantai dua. Ketika di jadikan Mesjid, maka di bagian yang menghadap ke kiblat (Makkah) ditambahkan tempat buat Imam dan dibuatkan mimbar buat khatib. Dan kemudian ditambahkan pula tempat khusus buat Muazzin (penyeru azan). Pengunjung sangat ramai, sulit untuk mengambil gambar dengan baik, karena ramainya pengunjung yang lalu lalang, sehingga bangunan serasa sempit, ditambah pencahayaan di dalam Hagia Sofia yang kurang. Tipikal dekorasi interior dalam Hagia Sofia, kemudian akan saya saksikan sama di Mesjid-mesjid lain berikutnya yang akan saya kunjungi. Kubah yang bertingkat, lampu yang digantung sangat rendah, dan 8 buah bulatan dengan nama Allah, Muhammad, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Hasan, dan Husayn, serta bentuk mimbar yang mirip.



Kebetulan hari Jumat, keluar dari Hagia Sofia tinggal melangkah menuju Masjid Biru atau Masjid Sultan Ahmet untuk lihat-lihat sekaligus sholat Jumat. Masjid Sultan Ahmet dibangun atas perintah dari Sultan Ahmet I, sultan ke-14 Ottoman, yang diangkat jadi Sultan ketika baru berumur 14 tahun dan hanya memerintah selama 14 tahun. Pembangunannya di desain oleh kepala Arsitek Istana Sedefkar Mehmet Agha yang merupakan arsitek yang mendapat bimbingan dan pengawasan langsung dari arsitek ternama Ottoman, Mimar Sinan. Pembangunan di mulai pada 1609 dan diselesaikan dalam waktu 7 tahun. Setahun setelah Mesjid selesai dibangun, Sultan Ahmet I meninggal dunia dalam usia yang masih sangat muda, 28 tahun. Seperti pertanyaan seorang turis yang bertanya kepada guidenya, kenapa disebut mesjid biru? Padahal dari luar saya lihat tidak biru sama sekali tapi abu-abu. Disebut Mesjid Biru karena hiasan interior dinding dan langit-langit didominasi oleh ubin dan ukiran yang berwarna biru. Dari catatan yang ada bahwa jumlah ubin kecil buat membentuk hiasan interior total berjumlah 21043. Mesjid biru juga mempunyai 6 buah menara yang membedakannya dengan Mesjid lain yang rata-rata cuma memiliki 4 menara. Jumlah menara konon melambangkan kekayaan yang dimiliki oleh si pembangun mesjid. Semakin banyak menara berarti semakin kaya si pendirinya.



Semua Mesjid besar di Istanbul membolehkan umat non Muslim untuk masuk ke Mesjid. Tanpa perlu tiket masuk. Di dalam mesjid diberi batas yang dibolehkan buat non Muslim untuk masuk bahkan saat pelaksanaan sholat berlangsung. Khusus pengunjung wanita diwajibkan mengenakan penutup kepala untuk menghormati kesucian Mesjid sebagai tempat ibadah. Yang lucu dan menarik menurut saya adalah banyaknya turis wanita dari Eropa, Amerika, dan Australia, serta dari Korea dan Jepang yang mengenakan tanktop sambil berkerudung masuk Mesjid. Turki adalah Negara mayoritas muslim tapi sangat moderat dan liberal menurut saya. Wanita berpakaian minim (wanita Turki atau turis) adalah hal yang biasa terlihat di mana-mana. Ciuman dan bermesraan di depan umum juga terlihat biasa di sini. Pemandangan ekstrim nampak ketika wanita berkerudung hitam serba tertutup berbaur dengan wanita berpakaian serba ketat dan terbuka. Semua berjalan biasa-biasa saja, setiap orang nyaman dengan gayanya masing-masing.

Dari Mesjid Biru saya kembali ke Hostel buat check in, mandi, dan makan siang. Hostel disekitar Sultan Ahmet rata-rata menawarkan roof top dengan view ke arah laut. Setelahnya, target saya berikutnya adalah Mesjid Suleymaniye. Dinamakan atas nama Sultan Suleyman, oleh arsitek kenamaan masa Ottoman Mimar Sinan. Dengan mengandalkan peta Istanbul yang saya dapat dari Hostel, dari arah Hagia Sofia saya belok kanan berjalan ke bawah mengikuti jalur Tramvay, hingga akhirnya saya berada di tepi laut. Dari sini saya bisa melihat puncak Mesjid Suleymaniye dari kejauhan, karena Mesjid ini dibangun di salah satu dari 7 bukit yang berada di Istanbul dengan view menghadap ke laut. Di sisi sini juga saya bisa melihat Galata Tower di seberang sana, tapi belum menjadi tujuan saya hari ini. Di seberang jalan di tepi laut, terdapat Mesjid besar juga, penasaran mesjid apa itu gerangan, sayapun menyeberang jalan, dan ternyata Mesjid itu bernama Mesjid Yeni. Di bangun pada tahun 1597 atas perintah Sultana Saliye, ibunda dari Sultan Mehmet III. Pembangunan Mesjid terhenti ketika Sultan Ahmed I naik tahta menggantikan Sultan Mehmet III. Pembangunan kembali dilanjutkan dan diselesaikan atas perintah Sultana Hatice, Ibunda dari Sultan Mehmet IV, dan mulai dibuka untuk tempat beribadah pada tahun 1663. Dari Mesjid Yeni saya melanjutkan jalan menuju Mesjid Suleymaniye, yang ternyata tidak sedekat kelihatannya. Sempat kehilangan arah karena patokan puncak menara Mesjid tidak keliatan, akhirnya saya menemukan jalan ke atas bukit (setelah bertanya ke orang lokal) lewat jalan belakang. Jalan ke atas yang agak terjal bikin saya ngos-ngosan. Dan setelah nyaris tersesat lagi, akhirnya saya sudah berada di pagar belakang Mesjid. Berputar ke depan untuk memasuki pintu gerbang utama. Sebagian Halaman Mesjid dan juga bagian dalamnya, sedang dalam proses renovasi dan restorasi. Dan ini banyak terlihat di beberapa Mesjid lama yang ada di Istanbul. Sekaligus sebagai salah satu upaya restorasi dan pemeliharaan, setelah tahun 2010, Istanbul ditetapkan sebagai kota kebudayaan Eropa. Mesjid Suleymaniye terletak ditengah-tengah kawasan penduduk dan pertokoan Istanbul masa kini, tidak seperti halnya Mesjid Biru Sultan Ahmet yang mempunyai pekarangan luas, sehingga menyulitkan untuk mengambil gambar Mesjid secara utuh. Sultan Suleymaniye dan sang Arsitek Mimar Sinan dimakamkan di pekarangan Mesjid.

Jam menunjukkan pukul 19.00, kaki sebenarnya sudah pegal banget jalan kaki, tetapi jarak Mesjid Fatih Mehmet, tanggung banget kalau sudah di Mesjid Suleymaniye. Akhirnya setelah sempat berpusing-pusing ria sendiri, akhirnya saya putuskan lanjut ke Mesjid Fatih Mehmet. Dan ternyata lokasi Mesjid ini juga tidak sedekat yang saya kira, mana udara makin dingin, jari kaki saya ikutan pegal kelamaan jalan. Tiba di Mesjid Fatih Mehmet menjelang Magrib. Mesjid Fatih Mehmet sedang dalam renovasi, sehingga sebagian besar bagian dalamnya ditutup seng, bahkan kita tidak bisa liat langit-langit dan dinding Mesjid. Agak kecewa juga, seandainya tau kayak gini, ga usah jauh-jauh jalan kaki. Istirahat meluruskan kaki di dalam Mesjid sambil nunggu waktu sholat. Punggung juga terasa pegalnya bukan main, manggul ransel yang isinya hanya kamera. Setelah dari Mesjid Fatih Mehmet, dengan semangat saya berjalan pulang, kembali berpatokan pada peta Istanbul dari Hostel, saya berhasil menemukan halte Tramvay sebagai patokan ke Hostel. Berdasarkan peta dari halte sekarang, hanya sisa 4 halte lagi tiba di Sultan Ahmet. Saya putuskan jalan kaki aja. Ternyata jarak ke halte Sultan Ahmet tidak sedekat yang saya kira. Kontur wilayah Istanbul adalah berbukit, jadi kita berjalan sering menanjak dan turun. Jarang melewati jalan yang datar. Di sejajaran jalur Tramvay, saya melihat petunjuk jalan ke arah Sultan Ahmet dan Hagia Sofia ke arah kanan. Jalur pintas mungkin pikir saya, ternyata justru jalur inilah yang saya harapkan bisa mengantar saya pulang ke Hostel lebih cepat, malah membuat saya tersesat di jalan-jalan kecil seputaran Sultan Ahmet. Mana jalannya tidak datar, naik turun gunung, kedinginan, kelaparan, tersesat pula. Udara malam yang dingin tetap bikin saya keringetan. Apes bener nih. Setelah Tanya kiri kanan dan salah jalan beberapa kali akhirnya saya berhasil mencapai sisi lain Mesjid Sultan Ahmed, dan bisa menemukan jalan pulang ke Hostel. Kurang istirahat selama perjalanan di pesawat, saya mulai jalan kaki dari jam 7.00 pagi mencari Hostel, keliling Hagia Sofia, keliling Mesjid Sultan Ahmet, nyaris tersesat menuju Mesjid Suleymaniye, naik turun gunung dari Mesjid Fatih Mehmet dan tersesat menuju jalan pulang pulang ke Hostel, membuat saya tertidur lelap nyaris 12 jam lamanya.

Jika anda berkesempatan ke Istanbul, jangan terlalu nafsu bisa mengunjungi semuanya dalam sehari. Cari tahu kendaraan umum buat menuju suatu lokasi, jangan anggap dekat yang kelihatan di peta dekat, atau bahkan yang kelihatan di mata begitu dekat. Soalnya itu tadi, kontur wilayah Istanbul yang berbukit-bukit membuat kita jalan kaki seperti naik turun gunung.




Wassalam,
Takbir

5 comments:

Reni said...

Wah, informatif banget Mas. Kebetulan saya juga berencana ke Turki tahun depan. Makasih atas infonya :D

SheNita said...

salam kenal mas ahmad. wah infonya bermanfaat sekali, saya oktober mau kesana 10 hari. saya blum punya rencana selain diistanbul, ini bisa jd panduan saya.

syifa hanifah said...

Infonya sangat membantu :D

Takbir said...

@mbak Reni, Nita, Syifa
Salam kenal
Senang bisa membantu :D

Anonymous said...

Nice posting... saya rencananya maret 2013 akan berlibur ke turki. Bisa minta saran itinerary-nya mas... makasih... ^^